Masalah perundungan di lingkungan pendidikan merupakan ancaman serius yang dapat menghambat perkembangan psikologis dan akademik generasi muda. Menanggapi urgensi tersebut, muncul sebuah gerakan masif bertajuk Bekasi Anti-Bully yang mengedepankan pendekatan preventif dan edukatif. Program ini merupakan bentuk nyata dari sinergi SMA 2 dengan lembaga perlindungan anak tingkat nasional untuk menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan fisik maupun verbal. Melalui kolaborasi ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi benteng pertahanan bagi kesehatan mental siswa.
Keterlibatan aktif dari KPAI dalam inisiatif ini memberikan standar prosedur operasional yang jelas dalam menangani kasus perundungan. Tidak hanya sekadar memberikan sanksi, program ini lebih menekankan pada pemulihan korban dan pembinaan pelaku agar memiliki empati yang lebih baik. Melalui sinergi SMA 2, dibentuklah satuan tugas khusus yang terdiri dari guru, perwakilan orang tua, dan siswa terpilih yang bertugas sebagai pelopor kebaikan. Satgas ini dilatih secara profesional untuk mendeteksi tanda-tanda awal perundungan, baik yang terjadi secara langsung di sekolah maupun melalui media sosial (cyber-bullying) yang sering kali sulit terpantau oleh orang dewasa.
Langkah untuk lindungi anak lingkungan Bekasi ini juga mencakup sosialisasi rutin mengenai hak-hak anak dan konsekuensi hukum dari tindakan kekerasan. Pihak sekolah menyadari bahwa sering kali perundungan terjadi karena kurangnya pemahaman tentang batasan privasi dan rasa menghargai perbedaan. Dengan bimbingan dari KPAI, kurikulum sekolah kini disisipi materi mengenai kecerdasan emosional dan komunikasi asertif. Hal ini bertujuan agar siswa mampu membela diri secara positif dan berani melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang mereka lihat atau alami tanpa rasa takut akan intimidasi lanjutan.
Program Bekasi Anti-Bully juga melibatkan peran aktif masyarakat sekitar sekolah. Melalui pertemuan rutin dengan warga dan tokoh pemuda, sekolah berupaya memastikan bahwa keamanan siswa tetap terjaga bahkan saat mereka sudah berada di luar gerbang sekolah. Sinergi ini sangat penting karena banyak kasus perundungan terjadi di area publik atau jalanan saat siswa pulang sekolah. Dengan adanya pengawasan kolektif dari masyarakat yang sadar akan pentingnya lindungi anak lingkungan, potensi konflik antar-pelajar dapat ditekan secara signifikan sebelum berkembang menjadi tawuran atau kekerasan yang lebih besar.
