Bekasi sering kali diidentikkan dengan kemacetan jalanan yang padat dan suhu udara yang cukup menantang bagi para komuter. Namun, di tengah hiruk-pikuk kota industri tersebut, SMAN 2 Bekasi mencoba menghadirkan sebuah narasi berbeda melalui gerakan lingkungan yang konsisten. Sekolah ini memelopori budaya bersepeda ke sekolah sebagai bagian dari upaya membangun gaya hidup berkelanjutan bagi para siswanya. Gerakan ini bukan sekadar tentang sarana transportasi alternatif, melainkan sebuah inisiasi mendalam untuk membentuk karakter remaja yang peduli pada kesehatan diri sendiri dan kelestarian ekosistem perkotaan yang semakin terbebani oleh polusi kendaraan bermotor.
Langkah awal yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah menyediakan infrastruktur yang mendukung. Lahan parkir khusus sepeda yang luas dan aman disediakan di area strategis sekolah untuk memberikan rasa tenang bagi siswa. Selain itu, fasilitas seperti ruang ganti dan loker penyimpanan perlengkapan bersepeda juga disiapkan agar siswa tetap merasa nyaman saat memulai pelajaran di kelas. Inisiasi transportasi sehat ini didukung penuh oleh guru dan staf yang juga turut memberikan teladan dengan sesekali menggunakan sepeda ke sekolah. Di SMAN 2 Bekasi, bersepeda bukan lagi dipandang sebagai gaya hidup yang melelahkan, melainkan sebuah tren positif yang melambangkan kemandirian dan kesadaran lingkungan.
Secara fisik, manfaat dari kegiatan ini sangat nyata. Para siswa yang rutin bersepeda memiliki stamina yang lebih terjaga dan tingkat kebugaran jantung yang lebih baik. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membantu mereka menjaga berat badan ideal dan meningkatkan metabolisme tubuh. Selain kesehatan fisik, bersepeda juga memberikan dampak positif bagi kesehatan mental. Udara pagi dan aktivitas mengayuh pedal secara ritmis terbukti dapat menurunkan tingkat stres sebelum memulai padatnya jam pelajaran. Siswa sampai di sekolah dengan pikiran yang lebih segar dan siap menyerap informasi baru secara optimal, sebuah manfaat yang jarang didapatkan jika mereka terjebak dalam kemacetan di dalam kendaraan bermotor.
Lebih jauh lagi, penggunaan transportasi sehat ini secara kolektif memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan kota. Dengan berkurangnya jumlah sepeda motor yang masuk ke lingkungan sekolah, emisi karbon di area pendidikan tersebut menurun secara signifikan. Siswa diajak untuk menghitung jejak karbon yang berhasil mereka hemat setiap harinya melalui aplikasi pemantau sederhana. Proses edukasi ini membuat mereka sadar bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama dapat membawa dampak besar bagi perubahan iklim global. Mereka tidak hanya belajar tentang lingkungan di dalam buku teks, tetapi mempraktikkannya secara nyata di jalanan setiap hari.
