Integrasi Wearable Device dalam Pelajaran Olahraga di SMAN 2 Bekasi

  • Post author:
  • Post category:berita

Dunia pendidikan jasmani kini tengah memasuki era baru yang lebih terukur dan berbasis data. Di Bekasi, sebuah inovasi dilakukan dengan memanfaatkan teknologi yang biasanya hanya digunakan oleh atlet profesional untuk diterapkan dalam kurikulum harian sekolah. Langkah ini merupakan bentuk Integrasi Wearable Device yang bertujuan untuk memahami kondisi fisik siswa secara lebih mendalam dan personal. Dengan menggunakan perangkat yang melingkar di pergelangan tangan, setiap denyut jantung, langkah kaki, hingga tingkat saturasi oksigen saat beraktivitas fisik dapat terpantau secara langsung melalui layar gawai sang pengajar.

Penerapan teknologi ini secara signifikan mengubah cara pandang terhadap performa atletik di tingkat sekolah. Jika sebelumnya penilaian olahraga cenderung bersifat subjektif atau hanya berdasarkan hasil akhir seperti kecepatan lari, kini guru dapat melihat proses di baliknya. Seorang siswa mungkin memiliki waktu lari yang lebih lambat, namun data menunjukkan bahwa ia telah bekerja keras mencapai zona detak jantung maksimalnya. Hal ini memungkinkan adanya apresiasi terhadap usaha individu (effort) yang lebih adil. Siswa pun menjadi lebih termotivasi karena mereka dapat melihat kemajuan fisik mereka sendiri melalui grafik dan angka yang nyata dari hari ke hari.

Pengumpulan metrik kesehatan yang akurat juga berfungsi sebagai upaya preventif dalam menjaga keselamatan siswa selama pelajaran olahraga. Dengan adanya data real-time, guru dapat segera mengetahui jika ada siswa yang mengalami kelelahan berlebih atau menunjukkan ritme jantung yang tidak normal sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Ini memberikan rasa aman baik bagi siswa, orang tua, maupun pihak sekolah. Pelajaran olahraga bukan lagi sekadar aktivitas yang melelahkan tanpa arah, melainkan sebuah sesi latihan yang terkontrol dan disesuaikan dengan kapasitas fisik masing-masing individu agar memberikan manfaat kesehatan yang optimal.

Lebih jauh lagi, digitalisasi kebugaran di lingkungan sekolah mendorong siswa untuk menjadi lebih sadar akan pola hidup mereka di luar jam sekolah. Data yang terkumpul biasanya terhubung dengan aplikasi yang memberikan analisis tentang kualitas tidur dan tingkat aktivitas harian secara keseluruhan. Hal ini menciptakan diskusi menarik di kelas tentang pentingnya pemulihan (recovery) dan nutrisi dalam mendukung aktivitas fisik. Siswa belajar bahwa menjadi bugar bukan hanya soal bergerak di lapangan, tetapi merupakan sebuah ekosistem perilaku yang melibatkan kedisiplinan dalam menjaga data tubuh mereka tetap dalam kondisi yang prima.