Bekasi tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga memiliki akar budaya yang sangat kuat, terutama dalam seni pertunjukan rakyat. Salah satu warisan budaya yang terus dilestarikan di sekolah-sekolah adalah pentas tari ronggeng, sebuah tarian khas pesisir yang melambangkan kegembiraan, keterbukaan, dan semangat kebersamaan masyarakat Bekasi. Melalui tarian ini, para pelajar diajak untuk mengenal jati diri daerahnya yang unik, yang merupakan perpaduan harmonis antara unsur budaya Sunda dan Betawi. Pembelajaran tari ronggeng di sekolah menjadi langkah strategis untuk menjaga agar kesenian pesisir ini tidak hilang ditelan arus urbanisasi yang sangat pesat.
Dalam setiap sesi latihan untuk pentas tari ronggeng, siswa diajarkan untuk menguasai gerakan yang lincah namun tetap memiliki kehalusan budi pekerti. Gerakan tangan yang dinamis dan permainan selendang menjadi ciri khas utama yang menuntut koordinasi tubuh yang baik. Musik pengiring yang biasanya terdiri dari kendang, gong, dan rebab menciptakan atmosfer yang semarak, memicu semangat siswa untuk menari dengan penuh penjiwaan. Proses belajar ini melatih kedisiplinan dan ketahanan fisik siswa, karena menarikan ronggeng memerlukan energi yang cukup besar untuk menjaga tempo irama yang cenderung cepat.
Keunggulan dari pelaksanaan pentas tari ronggeng di lingkungan sekolah adalah kemampuannya dalam membangun rasa inklusivitas. Tari ronggeng pada dasarnya adalah tari pergaulan yang bersifat interaktif. Di sekolah, hal ini dimanfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan antar siswa dari berbagai latar belakang. Saat menari bersama, perbedaan strata sosial atau kelompok seolah melebur dalam harmoni gerakan yang seragam. Nilai-nilai kebersamaan ini sangat penting untuk membentuk lingkungan sekolah yang toleran dan saling menghormati, sejalan dengan karakteristik masyarakat Bekasi yang egaliter.
Aspek edukasi sejarah juga terselip dalam setiap persiapan pentas tari ronggeng. Guru seni biasanya menjelaskan latar belakang tarian ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat pesisir atas hasil bumi dan laut. Pemahaman ini penting agar siswa tidak hanya sekadar menggerakkan tubuh, tetapi juga memiliki keterikatan batin dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang. Penggunaan kostum tradisional yang khas, seperti kebaya dengan warna-warna cerah dan kain jarik, memberikan pengalaman estetika yang meningkatkan apresiasi siswa terhadap kriya tekstil tradisional Indonesia.
