Puisi sering kali dianggap sebagai bentuk seni yang kaku dan kuno, hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Namun, di era media sosial yang didominasi oleh konten singkat dan cepat, puisi justru menemukan ruang baru untuk berkembang. Platform seperti TikTok, yang identik dengan video pendek, telah menjadi wadah bagi generasi muda untuk menjelajahi keindahan sastra dengan cara yang segar dan relevan. Format ini membuktikan bahwa esensi puisi, yaitu kekuatan kata-kata untuk menyampaikan emosi dan makna yang mendalam, tidak bergantung pada panjang atau formatnya, melainkan pada kemampuannya menyentuh hati audiens.
Sebagai contoh, pada bulan Juli 2024, sebuah fenomena viral terjadi ketika seorang pelajar bernama Daffa (17) mengunggah video dirinya sedang membacakan puisi karyanya sendiri. Puisi tersebut, yang hanya berdurasi 30 detik, membahas tentang kecemasan remaja dan tekanan sosial. Video Daffa mendapatkan jutaan penayangan dalam waktu singkat, memicu ribuan pengguna lain untuk membuat konten serupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa puisi memiliki daya tarik yang kuat di kalangan Gen Z, asalkan disajikan dengan cara yang sesuai dengan kebiasaan konsumsi media mereka. Kepala Bidang Kesenian di Dinas Kebudayaan setempat, Ibu Diana Setiawati, dalam sebuah wawancara pada 10 Agustus 2024, menyatakan bahwa tren ini sangat positif dan berpotensi besar untuk meningkatkan minat literasi di kalangan remaja.
Untuk menjelajahi keindahan sastra di platform seperti TikTok, para kreator menggunakan berbagai teknik. Mereka menggabungkan narasi puitis dengan visual yang menarik, musik yang emosional, dan editing yang dinamis. Puisi-puisi yang disajikan sering kali pendek dan to the point, namun sarat makna. Gaya penulisan yang dikenal sebagai “puisi mini” atau Instapoetry ini, yang juga populer di Instagram, sangat cocok dengan format video pendek. Puisi-puisi ini membahas topik-topik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti kesehatan mental, hubungan personal, dan isu-isu sosial, sehingga mudah untuk dihubungkan oleh audiens.
Lebih dari itu, puisi di TikTok tidak hanya soal konsumsi, tetapi juga kreasi. Platform ini mendorong pengguna untuk berpartisipasi dan berkreasi. Banyak tantangan (challenge) yang meminta pengguna untuk menulis puisi tentang tema tertentu, atau membuat video dengan format puisi yang sudah ada. Hal ini mengubah puisi dari sekadar “bacaan” menjadi sebuah “aktivitas”. Pengguna tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pencipta. Proses ini secara tidak langsung membantu mereka untuk menjelajahi keindahan sastra dari sisi yang lebih personal dan kreatif.
Pada akhirnya, fenomena puisi di TikTok membuktikan bahwa sastra bukanlah sesuatu yang harus kaku dan terisolasi. Dengan beradaptasi pada media dan kebiasaan audiens, puisi dapat tetap relevan dan memiliki dampak yang signifikan. Ini adalah cara yang inovatif untuk mempromosikan literasi dan membangkitkan kembali minat terhadap puisi di kalangan generasi muda.
